BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Abses
otak didefinisikan sebagai proses fokal supuratif dalam
parenkim otak
yang dimulai sebagai daerah lokal dari serebri dan berkembang menjadi kumpulan nanah dikelilingi oleh kapsule yang tervaskularisasi dengan baik. Insiden abses otak di negara maju adalah rendah, antara 1-2% sementara di negara-negara berkembang mencapai 8% dari semua pasien yang mempunyai lesi di intrakranial. Abses otak adalah penyakit fatal dengan kematian antara 30% dan 60% sampai akhir 1970-an, ketika ketersediaan teknik bedah membaik, terapi antimikroba efektif dan diagnostik modern modalitas pencitraan mengakibatkan penurunan dramatis angka kematian menjadi sekitar 10%. Namun, masih tetap perawatan masalah kesehatan yang signifikan dalam banyak negara dengan tingkat kematian dilaporkan antara 17% dan 32% pasien.
yang dimulai sebagai daerah lokal dari serebri dan berkembang menjadi kumpulan nanah dikelilingi oleh kapsule yang tervaskularisasi dengan baik. Insiden abses otak di negara maju adalah rendah, antara 1-2% sementara di negara-negara berkembang mencapai 8% dari semua pasien yang mempunyai lesi di intrakranial. Abses otak adalah penyakit fatal dengan kematian antara 30% dan 60% sampai akhir 1970-an, ketika ketersediaan teknik bedah membaik, terapi antimikroba efektif dan diagnostik modern modalitas pencitraan mengakibatkan penurunan dramatis angka kematian menjadi sekitar 10%. Namun, masih tetap perawatan masalah kesehatan yang signifikan dalam banyak negara dengan tingkat kematian dilaporkan antara 17% dan 32% pasien.
Abses otak
paling sering berasal dari sisi infeksi bersebelahan yang ada seperti otitis media
kronis, mastoiditis, sinusitis, atau karies gigi tetapi juga dapat terjadi
langsung setelah penetrasi cedera kepala, prosedur bedah saraf atau secara
hematogen seperti pada anak-anak dengan penyakit sianotik jantung bawaan. Dalam
25% kasus tidak ada sumber primer yang jelas dari timbulnya infeksi.
Awal
diagnosis, terapi antibiotik yang tepat
berdasarkan pengetahuan tentang penyebab mikroba dan operasi
merupakan faktor prognostik utama
untuk abses otak. Kultur negatif telah dilaporkan dari 9%
menjadi 63% dalam dokumentasi kasus abses otak
dan alasan dalam kasusu tersebut belum begitu jelas. Meskipun
abses otak terus
menjadi masalah utama di negara
berkembang, diterbitkan sedikit
data tentang jumlah kasus yang
terbatas yang tersedia dari negara berkembang termasuk India.
Klien
dengan brain abscess membutuhkan
perhatian dan penanganan yang serius, oleh karena itu pentingnya merumuskan
asuhan keperawatan berdasarkan NANDA, NIC, dan NOC adalah untuk memberikan
asuhan keperawatan yang berkualitas dan meningkatkan kualitas hidup klien.
Dengan berkolaborasi bersama dengan profesi tenaga kesehatan yang lain,
diharapkan tujuan dari pemberian pelayanan kesehatan pada klien dengan brain abscess akan tercapai.
B. Rumusan Penulisan
1. Apakah
abses otak itu?
2. Bagaimana
suhan keperawatan pada klien dengan abses otak berdasarkan NANDA, NIC dan NOC
melalui pengkajian Gordon?
C. Tujuan
Tujuan
dari penyusunan laporan ini adalah:
1. untuk
mengetahui abses otak,
2. untuk
mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan abses otak berdasarkan NANDA,
NIC dan NOC melalui pengkajian Gordon
D. Manfaat
1. Mahasiswa
mampu mengetahui abses otak
2. Mahasiswa
mampu mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada klien dengan abses otak
berdasarkan NANDA, NIC dan NOC melalui pengkajian Gordon
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A.
Definisi
Abses
otak adalah kumpulan nanah yang terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan
otak yang disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. Abses otak merupakan
kumpulan dari unsur-unsur infeksius dalam jaringan otak. Abses ini dapat
terjadi melalui :
1. Invasi
otak langsung dari trauma intracranial atau pembedahan.
2. Penyebaran
infeksi dari daerah lain seperti sinus, telinga, dan gigi (infeksi sinus
paranasal, otitis media, sepsis gigi).
3. Penyebaran
infeksi dari organ lain (abses paru-paru, endokarditis infektif).
Abses otak banyak terjadi pada penderita yang
mengalami gangguan kekebalan tubuh (seperti penderita HIV positif atau orang
yang menerima transplantasi organ).
B. Patofisiologi
1. Penyebab
Berbagai
mikroorganisme dapat ditemukan pada abses otak, yaitu bakteri, jamur dan
parasit. Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus
aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan Baeteroides. Abses oleh Staphylococcus
biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Bila
infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus
influenzae. Abses oleh Streptococcus
dan Pneumococcus sering merupakan
komplikasi infeksi paru. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya
oleh Streptococcus anaerob. Penyakit jantung bawaan
sianotik dengan pirau dari kanan ke kiri. (misalnya pada Tetralogy of Fallot),
terutama pada anak berusia lebih dari 2 tahun, merupakan faktor predisposisi
terjadinya abses otak. Jamur penyebab abses otak antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium
trichoides, spesies Candida dan Aspergillus. Walaupun jarang Entamuba histolitica, suatu parasit
amoeba usus dapat menimbulkan abses otak secara hematogen.
2. Manifestasi klinis
a.
Umumnya diakibatkan oleh edema,
pergeseran otak, infeksi, atau lokasi abses.
b.
Sakit kepala, biasanya pada
pagi hari, merupakan gejala berkelanjutan yang paling sering.
c.
Muntah, tanda-tanda neurologis
fokal (kelemahan ekstremitas, penurunan, penglihatan, kejang ) mungkin
tergantung pada tempat abses.
d.
Perubahan dalam status mental,
misalnya letargi, kekacauan mental, peka rangsang, atau perilaku disorientasi.
e.
Demam mungkin ada atau mungkin
pula tidak ada.
Fase
awal abses otak ditandai dengan edema lokal, hiperemia infiltrasi leukosit atau
melunaknya parenkim. Trombisis sepsis dan edema. Beberapa hari atau minggu dari
fase awal terjadi proses liquefaction
atau dinding kista berisi pus. Kemudian terjadi ruptur, bila terjadi ruptur
maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis.
Abses otak dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari
fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh,
atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Abses yang
terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling
sering pada pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang
perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus
tertentu.
Abses otak bersifat soliter atau multipel. Yang multipel biasanya
ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik, adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak
jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. Polisitemia ini memudahkan
terjadinya trombo-emboli. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya
telah mengalami infark akibat thrombosis, tempat ini menjadi rentan terhadap
bakteremi atau radang ringan. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi
yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam
sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. Biasanya terjadi pada umur
lebih dari 2 tahun. Dua pertiga abses otak adalah soliter, hanya sepertiga
abses otak adalah multipel. Pada tahap awal abses otak terjadi reaksi radang
yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem,
perlunakan dan kongesti jaringan otak, kadang-kadang disertai bintik
perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan
pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Astroglia,
fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. Mula-mula abses
tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif
terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Tebal kapsul antara beberapa
milimeter sampai beberapa sentimeter.
Gambar 1. Abses Otak
Gambar 2. Patofisiologi dan masalah
keperawatan abses otak
|
2.
Gangguan bersihan jalan napas.
|
|
Faktor
-faktor predisposisi : invasi bakteri ke otak langsung, penyebaran infeksi
dari daerah lain, penyebaran infeksi dari organ lain.
|
|
Infeksi
atau septicemia jaringan otak.
|
|
Proses
supurasi dari meningen.
|
|
Pembentukan
transudat dan eksudat.
|
|
Peningkatan
tekanan Intrakranial.
|
|
Penekanan
area fokal
|
|
Edema
serebral
|
|
Penekanan
area pengatur kesadaran.
|
|
Kejang
dan nyeri kepala.
|
|
1.
Gangguan
perfusi jaringan serebral.
|
|
Perubahan
tingkat kesadaran letargik, perubahan perilaku, disorientasi, dan fotofobia.
|
|
3. nyeri
4.
risiko tinggi cidera
|
|
Penurunan
kesadaran.
|
|
Koma.
|
|
Kematian
.
|
|
7. koping keluarga
tidak efektif.
8. kecemasan
keluarga.
|
|
Perubahan
pemenuhan nutrisi.
|
|
Intake nutrisi tidak adekuat.
|
|
9. pemenuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan.
|
|
5.
gangguan mobilitas fisik.
|
|
6.
Gangguan persepsi sensorik.
|
|
Penumpukan secret, kemampuan batuk
menurun.
|
C.
Pemeriksaan dan Diagnosis
1.
Anamnesis
Sakit kepala merupakan keluhan dini yang paling sering dijumpai (70–90%). Terkadang juga didapatkan mual, muntah dan kaku kuduk (25%).
Sakit kepala merupakan keluhan dini yang paling sering dijumpai (70–90%). Terkadang juga didapatkan mual, muntah dan kaku kuduk (25%).
a.
Pemeriksaan
fisik
Panas
tidak terlalu tinggi. Defisit neurologis fokal menunjukkan adanya edema di
sekitar abses. Kejang biasanya bersifat fokal. Gangguan kesadaran mulai dari
perubahan kepribadian, apatis sampai koma. Apabila dijumpai papil edema
menunjukkan bahwa proses sudah berjalan lanjut. Dapat dijumpai hemiparese dan
disfagia.
b. Pemeriksaan laboratorium
·
Darah:
jarang dapat memastikan diagnosis. Biasanya leukosit sedikit meningkat dan laju
endap darah meningkat pada 60% kasus.
·
Cairan
Serebro Spinal (CSS): dilakukan bila tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan
intra kranial (TIK) oleh karena dikhawatirkan terjadi herniasi.
c. Pemeriksaan radiologi
·
CT
Scan
CT scan kepala dengan kontras dapat dipakai untuk memastikan
diagnosis. Pada stadium awal (1 dan 2) hanya didapatkan daerah hipodens dan
daerah irreguler yang tidak menyerap kontras. Pada stadium lanjut (3 dan 4)
didapatkan daerah hipodens dikelilingi cincin yang menyerap kontras.
2.
Diagnosa
Gejala
awal abses otak tidak jelas karena tidak spesifik. Pada beberapa kasus,
penderita yang berobat dalam keadaan distress, terus menerus sakit kepala dan
semakin parah, kejang atau defisit neurologik (misalnya otot pada salah satu
sisi bagian tubuh melemah). Dokter harus mengumpulkan riwayat medis dan
perjalanan penyakit penderita serta keluhan-keluhan yang diderita oleh pasien.
Harus diketahui kapan keluhan pertama kali timbul, perjalanan penyakit dan
apakah baru-baru ini pernah mengalami infeksi. Untuk mendiagnosis abses otak
dilakukan pemeriksaan CT scan (computed tomography) atau MRI scan
(magnetic resonance imaging) yang
secara mendetil memperlihatkan gambaran potongan tiap inci jaringan otak. Abses
terlihat sebagai bercak/ noktah pada jaringan otak. Kultur darah dan cairan
tubuh lainnya akan menemukan sumber infeksi tersebut. Jika diagnosis masih
belum dapat ditegakkan, maka sampel dari bercak/ noktah tersebut diambil dengan
jarum halus yang dilakukan oleh ahli bedah saraf.
D.
Penatalaksanaan Medis
Pada umumnya terapi abses otak
meliputi pemberian antibiotik dan tindakan operatif berupa eksisi (aspirasi),
drainase dan ekstirpasi. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan
pemberian antibiotik, sebagai berikut:
1.
Bila
gejala klinik belum berlangsung lama (kurang dan 1 minggu) atau kapsul belum
terbentuk.
2.
Sifat-sifat
abses:
a. Abses yang lokasinya jauh dalam
jaringan otak merupakan kontraindikasi operasi.
b. Besar abses.
c. Soliter atau multipel; pada abses
multipel tidak dilakukan operasi
Pemilihan
antibiotik didasarkan hasil pemeriksaan bakteriologik dan sensitivitas. Sebelum
ada hasil pemeriksaan bakteriologik dapat diberikan antibiotik secana
polifragmasi ampisilin/penisilin dan kioramfenikol. Bila penyebabnya kuman
anaerob dapat diberikan metronidasol. Golongan sefalosporin generasi ke tiga
dapat pula digunakan. Tindakan pembedahan dapat dilakukan dengan memperhatikan
faktor-faktor tersebut di atas.
Ada 2
pendekatan yang dilakukan dalam terapi abses otak, yaitu :
a. Antibiotika untuk mengobati infeksi
Jika
diketahui infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri yang spesifik, maka
diberikan antibiotika yang sensitif terhadap bakteri tersebut, paling tidak
antibiotika berspektrum luas untuk membunuh lebih banyak kuman penyakit. Paling
sedikit antibiotika yang diberikan selama 6 hingga 8 minggu untuk menyakinkan
bahwa infeksi telah terkontrol.
b. Aspirasi atau pembedahan untuk
mengangkat jaringan abses
Jaringan
abses diangkat atau cairan nanah dialirkan keluar tergantung pada ukuran dan
lokasi abses tersebut. Jika lokasi abses mudah dicapai dan kerusakkan saraf
yang ditimbulkan tidak terlalu membahayakan maka abses diangkat dengan tindakan
pembedahan. Pada kasus lainnya, abses dialirkan keluar baik dengan insisi
(irisan) langsung atau dengan pembedahan yaitu memasukkan jarum ke lokasi abses
dan cairan nanah diaspirasi (disedot) keluar. Jarum ditempatkan pada daerah
abses oleh ahli bedah saraf dengan bantuan neurografi stereotaktik, yaitu suatu
tehnik pencitraan radiologi untuk melihat jarum yang disuntikkan ke dalam
jaringan abses melalui suatu monitor. Keberhasilan pengobatan dilakukan dengan
menggunakan MRI scan atau CT scan untuk menilai keadaan otak dan
abses tersebut. Antikonvulsan diberikan untuk mengatasi kejang dan penggunaanya
dapat diteruskan hingga abses telah berhasil diobati.
Dianjurkan menghubungi dokter bila mengalami sakit kepala
yang kontinu dan keadaannnya makin memburuk dalam beberapa hari atau minggu.
Jika sakit kepala disertai mual, muntah, kejang, gangguan kepribadian atau
kelemahan otot, disarankan untuk segera mencari pertolongan.
Sasaran penatalaksanaan adalah untuk
menghilangkan abses. Abses otak diobati dengan terapi antimikroba dan irisan
pembedahan atau aspirasi.
1.
Pengobatan
antimikroba diberikan untuk menghilangkan organisme penyebab atau menurunkan
perkembangan virus.
2.
Dosis
besar melalui intravena biasanya ditentukan praoperatif untuk menembus jaringan
otak dan abses otak. Terapi diteruskan pada pascaoperasi.
3.
Kortikosteroid
dapat diberikan untuk menolong menurunkan peradangan edema serebri jika klien
memperlihatkan adanya peningkatan defisit neurologis.
4.
Obat-obat
antikonvulsan (fenitoin, fenobarbital) dapat diberikan sebagai profilaksis
mencegah terjadinya kejang. Abses yang luas dapat diobati dengan terapi
antimikroba yang tepat, dengan pemantauan ketat melalui pengamatan dengan CT
scan.
Setelah
pengobatan abses otak, defisit neurologis dapat terjadi berupa hemiparesis,
kejang, gangguan penglihatan, dan kelumpuhan saraf kranial karena kemungkinan
adanya gangguan jaringan otak. Serangan ulang biasanya terjadi, dengan angka
kematian yang tinggi.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Kasus
Tn.I, 34 tahun
mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan
semakin memberat. Sakit kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti
kepala sedang diregangkan. Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala
terutama pada kepala bagian belakang. Apabila sakit kepalanya timbul, Os
terkadang sampai menelungkupkan kepalanya dan memegangi kepalanya dengan kedua
tangannya. Sakit kepalanya timbul terusmenerus dan menetap serta lebih sering
terasa semakin memberat menjelang malam hari sehingga membuat Os tidak dapat
beristirahat. Untuk mengurangi sakit kepalanya, Os lebih senang berbaring pada
sisi sebelah kiri. Mual (+), muntah (+), riwayat trauma pada kepala (+), sering
gelisah dan susah tidur pada malam hari. Terkadang Os tidak ingat pada
siapapun.
Pada
pemeriksaan fisik tidak didapatkan adanya kelainan. Tidak ada parese N.
Kranialis. Pemeriksaan motorik dan sensorik pada ekstremitas baik. Refleks
fisiologis (+). Tidak terdapat refleks patologis. Gangguan saraf otonom (-).
Hanya ditemukan kaku kuduk (+) pada pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan
laboratorium ditemukan peningkatan angka leukosit. Pada pemeriksaan radiologi
dengan CT Scan kepala didapatkan midline shift ke kiri, tampak gambaran
hipodens di temporofrontalis dekstra dan temporooksipitalis sinistra yang pada
pemberian larutan kontras tampak gambaran “enhancement” di frontalis dekstra
dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.
B. Pengkajian Gordon
1.
Identitas
a.
Identitas Pasien
Nama : Tn. I
Umur : 34 tahun
Agama : Kristen
Jenis Kelamin :
Laki – laki
Status : Menikah
Pendidikan : D3
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa :
Jawa
Alamat : Yogyakarta
Tanggal Masuk :
26 November 2012
Tanggal Pengkajian: 27 November 2012
No. Register :
-
Diagnosa Medis :
Abses cerebri
2.
Status
Kesehatan
a.
Status
Kesehatan Saat Ini
1)
Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini) :
Sakit kepala
2) Alasan masuk
rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini :
Sakit kepala dirasakan
selama 2 minggu SMRS dan dirasakan semakin memberat. Sakit kepala terkadang
dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan. Sakit kepala
dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang. Apabila
sakit kepalanya timbul, Os terkadang sampai menelungkupkan kepalanya dan
memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sakit kepalanya timbul
terus-menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat pada pagi
hari dan menjelang malam hari sehingga membuat Os tidak dapat beristirahat.
Awalnya sakit kepala
dirasakan 2 minggu yang lalu ketika Os sedang bekerja, yang membuat Os
beristirahat sejenak, kemudian tanpa timbul mual Os muntah beberapa kali.
Muntahnya timbul pada saat Os sedang berbaring dan terkesan muncrat. Karena
tidak ada perbaikan selama beberapa hari berada di rumah, dan muntah
terus-menerus, serta tidak ada perbaikan pada sakit kepalanya walaupun telah
diberikan obat sakit kepala, akhirnya Os dibawa oleh keluarganya ke rumah
sakit.
Di rumah sakit, Os
masih sering muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual. Akhir-akhir ini
Os merasa gelisah dan susah sekali buat tidur, khususnya menjelang malam. Lebih
banyak diam, dan tampak acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap
panggilan serta terkadang berbicara ngelantur (sering tidak nyambung ). Bahkan
menurut pengakuan istrinya, Os terkadang tidak mengenali lagi
saudara-saudaranya sendiri bahkan kepada istrinya sendiri. Os seringkali
merintih kesakitan.
Ketika berumur sekitar
25 tahun, Os pernah mengalami trauma pada kepalanya karena tertimpa kayu belian
ketika sedang membuat rumah. Pada saat itu, Os pingsan selama kurang lebih 2
jam dan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa
hari. Saat ini Os mengalami demam dan tidak pernah mengalami kejang-kejang.
3) Upaya yang
dilakukan untuk mengatasinya :
Untuk mengurangi sakit kepalanya, Os
lebih senang berbaring pada sisi sebelah kiri.
b. Status Kesehatan Masa Lalu
1)
Penyakit yang pernah dialami :
Riwayat hipertensi
disangkal , riwayat diabetes disangkal, riwayat sakit pada telinga, gigi
disangkal, riwayat sakit pada kulit disangkal. Riwayat kejang disangkal.
2)
Pernah dirawat :
Ketika berumur sekitar
25 tahun, Os pernah mengalami trauma pada kepalanya karena tertimpa kayu belian
ketika sedang membuat rumah. Pada saat itu, Os pingsan selama kurang lebih 2
jam dan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa
hari. Saat ini Os mengalami demam dan tidak pernah mengalami kejang-kejang.
3)
Alergi :
Os melaporkan tidak memiliki alergi.
4)
Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll) :
- Merokok sejak remaja,
menghabiskan 2 bungkus rokok/hari
- Minum kopi 3
gelas/hari
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada pada keluarga
yang mengalami keluhan yang serupa.
d. Diagnosa Medis dan therapy
Abses serebri
3. Pola
Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a. Pola Persepsi dan Manajemen
Kesehatan
·
Sebelum
sakit : Os mengatakan sakitnya karena trauma kepala akibat tertimpa kayu.
·
Saat
sakit : Os di bawa ke rumah sakit karena sakit kepalanya yang timbul terus-menerus
b. Pola Nutrisi-Metabolik
·
Sebelum
sakit :
Frekuensi
makan : 3 x sehari
·
Saat
sakit : Baik
c. Pola
Eliminasi
1)
BAB
Sebelum sakit:
Frekuensi :
1 x sehari
Warna :
kuning kecoklatan
Konsistensi
: lembek
Saat sakit :
Normal
2)
BAK
Sebelum sakit: Normal
Saat sakit :
Normal
d. Pola
aktivitas dan latihan
1)
Aktivitas
Saat sakit :
aktivitas Os tergantung total karena terjadi penurunan kesadaran.
2) Latihan
· Sebelum sakit : Bekerja setiap hari dan olahraga seminggu sekali.
· Saat sakit : Tidak mampu bekerja dan berolahraga.
e.
Pola
kognitif dan Persepsi
Os masih dalam keadaan apatis
sehingga belum dapat dikaji secara keseluruhan.
f.
Pola
Persepsi-Konsep Diri
Os masih dalam keadaan apatis sehingga
belum dapat dikaji secara keseluruhan.
g.
Pola
Tidur dan Istirahat
Sebelum
sakit : Baik
Saat
sakit : Pasien mengeluhkan sulit
beristirahat karena nyeri yang dialami
h.
Pola
Peran-Hubungan
·
Sebelum
sakit :
Os
dapat berkomunikasi dengan baik, dengan keluarga maupun tetangganya
·
Saat
sakit :
Os
menggalami masalah dalam berkomunikasi.
i.
Pola
Seksual-Reproduksi
Sebelum
sakit : tidak mengalami masalah seksual
Saat
sakit : mengalami perubahan dalam
pemenuhan kebutuhan seks
j.
Pola
Toleransi Stress-Koping
·
Sebelum
sakit :
Os
menceritakan setiap masalahnya pada keluarganya.
·
Saat
sakit :
Keluarga mengatakan os selalu
menceritakan keluhanya yang dialaminya.
k.
Pola
Nilai-Kepercayaan
·
Sebelum
sakit : Os menganut agama Kristen, dan melaksanakan persembahyangan di gereja
setiap minggu
·
Saat
sakit : Os tidak bisa melakukan
persembahyangan dan hanya bisa berdoa di tempat tidur
4.
Pemeriksaan Fisik
a.
Status
Generalis
- Keadaan
umum : Tampak sedang sakit, gelisah,
lemah
- Kesadaran : Apatis
- Status
gizi : Cukup
b.
Tanda-tanda
Vital
- Tekanan
darah : 130/70 mmHg
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi
cukup
- Nafas : 21x/ menit, teratur,
kedalaman cukup
- Suhu : 38,5oC
c.
Keadaan
Fisik
- Kepala
: Bentuk tidak ada
kelainan, simetris, dan nyeri tekan (+) pada daerah belakang kepala sebelah
kanan
- Leher : Sikap dinamis, gerakan
memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan baik
- Vertebra
: Tidak terdapat deformitas
- Mata : Konjungtiva tidak pucat,
sklera tidak ikterik
- Telinga :
Sekret (-)
- Hidung : Sekret (-), deviasi septum (-)
- Tenggorokan : Faring tidak hiperemis
- Jantung :
Bunyi jantung I/II normal, murmur (-), gallop (-)
- Paru : Suara dasar vesikuler ,
rhonki (-/-), wheezing (-/-)
- Abdomen
: Perut datar, lemas, tidak
teraba hati maupun limpa
- Bising
usus : 3x/menit
- Ekstremitas : Akral hangat, perfusi perifer baik
- Kulit : Kering pada kedua tungkai
d.
Status
neurologik
- GCS
13 , E4M5V4
- Orientasi,
jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu
- Kemampuan
berbicara tidak terganggu
- Cara
berjalan tidak terdapat kelainan
- Tidak
ada gerakan abnormal
- Pemeriksaan
Rangsang Meningeal
·
Kaku kuduk ( + )
·
Lasegue ( - )
·
Kernig ( - )
·
Brudzinski I/Brudzinski’s neck sign ( -
)
·
Brudzinski II/Brudzinski’s contralateral
leg sign ( - )
- Nervus
kranialis
·
N.I :
daya pembau baik
·
N.II :
daya penglihatan baik
·
N.III :
ptosis (-), gerak kedua mata ke medial, atas, dan bawah baik, pupil bulat
isokor, diameter 3 mm, Refleks pupil +/+, strabismus divergen
(-), diplopia (-)
·
N.IV : gerak kedua mata ke lateral bawah
baik, strabismus konvergen (-), diplopia
(-)
·
N.V :
sensibilitas baik, motorik baik
·
N.VI : gerak kedua mata ke lateral baik,
strabismus konvergen (-), diplopia (-)
·
N.VII :
motorik baik, tidak tampak paresis, salivasi dan lakrimasi baik.
· N.VIII : pendengaran suara baik pada telinga
kanan dan kiri
·
N.IX & X : arkus faring simetris, bersuara baik, tidak sengau, menelan baik
·
N.XI :
bisa memalingkan kepala dan mengangkat bahu
·
N.XII :
artikulasi baik, kekuatan lidah baik, deviasi (-), tremor (-)
-
Motorik
·
Kekuatan : 4
4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 4 4 4 4 4
·
Tonus : N N
N N
·
Trofi : atrofi - -
-
-
·
Sensorik eksteroseptif:
Ekstremitas
atas : baik
Ekstremitas
bawah: baik
-
Refleks fisiologis:
·
bisep (+/+)
·
trisep (+/+)
·
radius (+/+)
·
patella (+/+)
·
achilles (+/+)
-
Refleks patologis:
·
Hoffman-Trommer (-/-)
·
Babinsky (-/-)
·
Oppenheim (-/-)
·
Gordon (-/-)
·
Gonda (-/-)
·
Schaffer (-/-)
·
Chaddock (-/-)
-
Otonom:
·
retensio urin (-)
·
inkotinensia alvi (-)
5.
Pemeriksaan
Penunjang
a.
Laboratorium
( hasil pemeriksaan tanggal 28 November 2012)
Hb
: 13,4 g/dL
Ht
: 41,6 %
Leukosit : 12.000/dl
Trombosit : 319.000 /JL
b.
Radiologi
( hasil pemeriksaan tanggal 2 Desember 2012)
Foto
thorak : Cor Pulmo tidak tampak
kelainan
CT
Scan Kepala : Tampak midline shift ke
kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan
temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak gambaran
“ring enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.
c.
Laboratorium
Lain (hasil pemeriksaan tanggal 4 Desember 2012)
Waktu
perdarahan : 2’30’’
Waktu
pembekuan : 7’30’’
Analisa Data
Data
|
Etiologi
|
Masalah Keperawatan
|
DO :
- Keadaan
umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
- Kesadaran
: Apatis.
- GCS
13
- Tekanan
darah : 130/70 mmHg.
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup.
- Nafas
: 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup.
- CT
Scan Kepala : Tampak midline shift
ke kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan
temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak
gambaran “ring enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.
- Os
muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual.
DS :
-
Os mengeluh sakit kepala yang
telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
|
Cedera
kepala
|
Penurunan kapasistas adaptif intrakranial
|
DO :
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup.
- Nafas
: 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup.
- Suhu : 38,5oC.
- Kulit : Kering pada kedua tungkai.
DS
: -
|
Infeksi
|
Hipertermi
|
DO :
- Tekanan
darah : 130/70 mmHg.
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup.
- Nafas
: 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup.
- Kaku
kuduk (+).
- Os
sering merintih kesakitan.
DS :
- Os
mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan
semakin memberat.
- Sakit
kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang
diregangkan.
- Sakit
kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang.
- Sakit
kepalanya timbul terus menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin
memberat menjelang malam hari sehingga membuatnya tidak bisa beristirahat.
|
Inflamasi
|
Nyeri
|
DO :
- Keadaan
umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
- Kesadaran
: Apatis.
- GCS
13
- Orientasi,
jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu.
DS :
-
Os lebih banyak diam, dan tampak
acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap panggilan serta terkadang
berbicara ngelantur (sering tidak nyambung ).
-
Menurut pengakuan istrinya, Os
terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudaranya sendiri bahkan kepada
istrinya sendiri.
|
Penurunan kesadaran dan status mental
|
Resiko injuri
|
C. Asuhan Keperawatan
Data
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
DO :
- Keadaan
umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
- Kesadaran
: Apatis
- GCS
13
- Tekanan
darah : 130/70 mmHg
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
- Nafas
: 21x/ menit, teratur, ke-dalaman cukup
- CT
Scan Kepala: Tampak midline shift ke kiri, tampak gambaran hipodens-ditempo-rofrontalis dekstra dan temporo oksipitalis sinistra yang pada
pemberian larutan kontras tampak gambaran “ring enhance-ment” di frontalis dekstra dengan
ukuran 3,5 x 2,8 cm.
- Os
muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual.
DS :
-
Os mengeluh sakit kepala yang
telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
|
Penurunan kapasistas adaptif intracranial b.d cidera
kepala
Domain 9 : Koping/Toleransi
stress
Kelas 3 : Stress Neuro
Behavior
Definisi :
Mekanisme dinamika cairan intracranial yang secara
normal dapat berkompensasi terhadap peningkatan volume intracranial dapat
beradaptasi, hasil peningkatan tekanan berulang yang tidak sesuai sebagai
respon terhadap berbagai macam stimulus.
Batasan Karakteristik :
·
Keadaan umum : Tampak sedang
sakit, gelisah, lemah
·
Kesadaran : Apatis
·
Tekanan darah:
130/70 mmHg
·
Nadi : 102x/ menit, teratur, isi
cukup
·
Nafas : 21x/ menit, teratur,
kedalaman cukup
·
CT Scan Kepala : Tampak midline
shift ke kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan
temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak
gambaran “ring enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm
·
Os muntah-muntah, terkadang
didahului oleh rasa mual
·
Os mengeluh sakit kepala yang
telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat
|
Perfusi Jaringan :
Serebral
Definisi :
Aliran
darah yang adekuat menuju pembuluh darah otak untuk menjaga fungsi otak.
·
Tekanan intrakranial menurun
·
Demam menurun
·
Muntah berkurang
·
Berkurangnya gangguan kognisi
·
Sakit kepala menurun
|
Peningkatan perfusi
serebral
Definisi
: Meningkatkan perfusi yang adekuat dan membatasi komplikasi pada pasien yang
sedang mengalami atau beresiko untuk perfusi serebral yang tidak adekuat.
·
Mengkonsultasikan dengan terapis
untuk menentukan posisi kepala yang optimal (0, 15, atau 300) dan
memonitor respon pasien terhadap perubahan posisi
·
Menghindari fleksi pada leher
atau fleksi pada pinggul/lutut yang ekstrem
·
Memonitor status neurologi
·
Menghitung dan memonitor tekanan
perfusi serebral (CPP)
|
DO :
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
- Nafas
: 21x/ menit, teratur, ke-dalaman cukup
- Suhu : 38,5oC
- Kulit : Kering pada kedua tungkai
DS
: -
|
Hipertermi b.d infeksi
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 6 : Termoregulasi
Definisi : Peningkatan suhu tubuh diatas
kisaran normal.
Batasan karakteristik :
·
Nadi : 102x/ menit, teratur, isi
cukup
·
Nafas : 21x/ menit, teratur,
kedalaman cukup
·
Suhu : 38,5oC
·
Kulit : Kering pada kedua tungkai
|
Termoregulation
Definisi:
Keseimbangan
antara produksi panas, peningkatan panas, dan kehilangan panas.
·
Suhu tubuh klien turun (normal 37oC
+- 1oC)
·
Kulit klien melembab
·
Klien merasa nyaman dengan suhu
tubuhnya
·
Sakit kepala klien berkurang
TTV
·
Suhu tubuh normal
·
Tekanan darah normal
·
RR normal
·
Nadi normal
|
Penanganan demam
Definisi
: Manajemen pasien dengan hiperpireksia karena faktor non-lingkungan
·
Memonitor temperatur secara
berkala
·
Memonitor kehilangan cairan yang
tidak terlihat
·
Memonitor warna kulit dan temperatur
·
Memonitor tekanan darah, nadi dan
pernafasan secara berkala
·
Memonitor tingkat penurunan
kesadaran
·
Memonitor intake dan output
·
Memberikan obat antipiretik jika
dibutuhkan
·
Memberikan cairan intravena
|
DO :
- Tekanan
darah : 130/70 mmHg
- Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
- Nafas
: 21x/ menit, teratur, ke-dalaman cukup
- Kaku
kuduk (+)
- Os
sering merintih kesakitan
DS :
- Os
mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan
semakin memberat.
- Sakit
kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang
diregangkan.
- Sakit
kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang.
- Sakit
kepalanya timbul terus menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin
memberat menjelang malam hari sehingga membuat-nya tidak bisa beristira-hat.
|
Nyeri akut b.d inflamasi pada otak
Domain 12 : Kenyamanan
Kelas 1 : Kenyamanan Fisik
Definisi : Pengalaman sensori dan emosional
yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau
potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International
Association for the Study of Pain); awitan yang tiba – tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung > 6 bulan.
Batasan karakteristik :
·
Tekanan darah:
130/70
mmHg
·
Nadi : 102x/ menit, teratur, isi
cukup
·
Nafas : 21x/ menit, teratur,
kedalaman cukup
·
Kaku kuduk (+)
·
Os sering merintih kesakitan
·
Os mengeluh sakit kepala yang
telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
·
kepala terkadang dirasakan
berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan.
·
Sakit kepala dirasakan di semua
bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang.
·
Sakit kepalanya timbul terus
menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat menjelang
malam hari sehingga membuatnya tidak bisa beristirahat.
|
Level nyeri
Definisi
: Keparahan nyeri yang diamati atau dilaporkan.
·
Klien melaporkan nyeri berkurang
·
Klien menunjukkan ekspresi nyeri
berkurang
·
Klien mengatakan mual berkurang
·
TTV normal
|
Manajemen nyeri:
Definisi
: Mengurangi nyeri atau menurunkan nyeri ke level yang nyaman untuk diterima
pasien
·
Menunjukkan pengkajian yang
komprehensif dari nyeri untuk menunjukkan lokasi, karakter, onset/durasi
frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor-faktor
pencetusnya
·
Mengamati perilaku tidak nyaman
non-verbal, terutama jika tidak mampu berkomunikasi secara efektif
·
Menggunaka n strategi komunikasi
terapeutik untuk pengalaman ketidaknyamanan tentang nyeri dan penerimaan
respon pasien tentang nyeri
·
Menentukan dampak dari pengalaman
nyeri dalam kualitas hidup (tidur, selera makan, aktivitas, kognisi, suasana
hati, hubungan, penampilan kerja, dan tanggungjawab peran)
·
Mengurangi atau mengeliminasi
faktor pencetus atau yang meningkatkan nyeri (takut, kelelahan, perilaku yang
monoton, kurang pengetahuan)
·
Memilih dan mengimplementasikan
berbagai macam pengukuran (farmakologi, non-farmakologi, interpersonal) untuk
memfasilitasi penghilangan nyeri
·
Mengajari prinsip manajemen nyeri
·
Mempertimbangkan tipe dan sumber
nyeri ketika memilih strategi menghilangkan nyeri
·
Mendorong pasien untuk memonitor
nyerinya dan ikut campur seperlunya
·
Mengajarkan untuk menggunakan
teknik non-farmakologi
Administrasi
analgesik
Definisi
: Menggunakan agen farmakologi untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri
·
Mengevaluasi kemampuan pasien
untuk berpartisipasi dalam pemilihan analgesik, jalur, dosis dan keterlibatan
pasien jika dibutuhkan
·
Memilih analgesik yang sesuai
atau kombinasi analgesik jika lebih daari satu yang diresepkan
·
Menentukan pemilihan analgesik
berdasarkan tipe dan keparahan nyeri
·
Memonitio tanda-tanda vital
sebelum dan sesudah pemberian analgesik
·
Memperhatikan kebutuhan
kenyamanan dan aktivitas lain yang membantu relaksasi untuk memfasilitasi
respon analgesik
·
Mendokumentasikan respon
analgesik dan efek yang tidak diinginkan
|
DO :
- Keadaan
umum: Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
- Kesadara:
Apatis
- GCS
13
- Orientasi,
jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu.
DS :
- Os
lebih banyak diam, dan tampak acuh tak acuh, serta sering tidak merespon
terhadap panggilan serta terkadang berbicara ngelantur (sering tidak nyam-bung)
- Menurut
pengaku-an
istrinya, Os terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudara-nya sendiri bahkan kepada
istrinya sendiri.
|
Resiko injury b.d penurunan
kesadaran dan status mental
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 2 : Cedera Fisik
Definisi :
Beresiko mengalami cedera sebagai
akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber
defensif individu.
Faktor resiko :
·
Keadaan umum : Tampak sedang
sakit, gelisah, lemah
·
Kesadaran : Apatis
·
Orientasi, jalan pikiran, daya
ingat kejadian baru dan lama terganggu
·
Os lebih banyak diam, dan tampak
acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap panggilan serta terkadang
berbicara ngelantur (sering tidak nyambung)
Menurut pengakuan istrinya, Os
terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudaranya sendiri bahkan kepada
istrinya sendiri
|
Status neurologi
Definisi
: kemampuan saraf pusat dan teppi untuk menerima, memproses, dan merespon
untuk stimulus internal dan eksternal.
-
Kesadaran membaik
-
Penurunan tekanan intrakranial
-
Kounikasi sesuai dengan situasi
-
Pola tidur-istirahat embaik
-
Tekanan darah normal
-
Tekanan nadi normal
-
Pola nafas efektif
-
Orientasi kognitif membaik
-
Tidak terjadi sakit kepala.
|
Monitor neurologi
Definisi
: Mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah atau meminimalkan
komplikasi neurologi
·
Memonitor tingkat kesadaran
·
Memonitor tingkat orientasi
·
Memonitor ingatan saat ini, lama
perhatian, ingatan masa lalu, suasana hati dan perilaku
·
Mencatat keluhan sakit kepala
·
Menghindari aktivitas yang dapat
meningkatkan tekanan intrakranial
Pencegahan Jatuh
Definisi
: Melakukan pencegahan khusus pada pasien yang beresiko cedera dari terjatuh.
Aktivitas
:
· Mengidentifikasi
kelemahan kognitif atau fisik dari pasien yang mungkin dapat meningkatkan
potensi terjatuh
· Mengidentifikasi
lingkungan dan faktor yang mengakibatkan resiko terjatuh
· Mengulas
sejarah terjatuh pada pasien dan keluarga
· Mengidentifikasi
karakteristik lingkungan yang mungkin meningkatkan potensi terjatuh (misalnya
lantai licin)
· Mengamati
jalan, keseimbangan, dan kelelahan dengan ambulasi
· Mengajarkan
klien bagaimana terjatuh untuk mengurangi cedera
· Menyediakan
tempat tidur dengan roda untuk memudahkan perpindahan
· Menggunakan
pengaman tempat tidur yang panjang dan tinggi untuk mencegah jatuh dari
tempat tidur, bila perlu
· Menggunakan
alarm tempat tidur untuk memperingatkan perawat jika individu akan terjatuh,
jika dibutuhkan
|
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
a.
Abses otak adalah kumpulan nanah yang
terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan otak yang disebabkan karena infeksi
bakteri atau jamur.
b.
Mikroorganisme
yang menyebabkan abses otak, yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus
anaerob, Streptococcus beta
hemolyticus, Streptococcus alpha
hemolyticus, E. coli dan Baeteroides.
c.
Manifestasi klinis yang sering muncul pada abses otak adalah sakit
kepala, muntah, kelemahan ekstremitas, penurunan, penglihatan, kejang,
perubahan dalam status mental, demam.
d.
Berdasarkan kasus, diagnosis yang dapat ditegakkan
pada pasien abses otak adalah penurunan kapasistas adaptif
intracranial b.d cidera kepala, hipertermi b.d infeksi, nyeri akut b.d inflamasi pada otak, resiko injury b.d penurunan kesadaran
dan status mental.
B.
Saran
a.
Perawat mampu berkolaborasi
dengan tenaga medis yang lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
pada klien dengan brain abscess.
b.
Perawat mampu menyusun dan menerapkan
Asuhan Keperawatan berdasarkan NANDA, NIC dan NOC melalui Pengkajian Gordon di
pelayanan kesehatan agar tujuan dari pemberian pelayanan kesehatan tercapai.
c.
Perawat harus selalu meng-update
informasi dan ilmu pengetahuan untuk menunjang pemberian pelayanan asuhan
keperawatan pada klien dengan brain abscess melalui Evidence Based Nursing.



0 komentar:
Posting Komentar