Jumat, 18 Oktober 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ABSES OTAK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Abses otak didefinisikan sebagai proses fokal supuratif dalam parenkim otak
yang dimulai sebagai daerah lokal dari serebri dan berkembang menjadi kumpulan nanah dikelilingi oleh kapsule yang tervaskularisasi dengan baik. Insiden abses otak di negara maju adalah rendah, antara 1-2sementara di negara-negara berkembang mencapai 8% dari semua pasien yang mempunyai lesi di intrakranial. Abses otak adalah penyakit fatal dengan kematian antara 30% dan 60% sampai akhir 1970-an, ketika ketersediaan teknik bedah membaik, terapi antimikroba efektif dan diagnostik modern modalitas pencitraan mengakibatkan penurunan dramatis angka kematian menjadi sekitar 10%. Namun, masih tetap perawatan masalah kesehatan yang signifikan dalam banyak negara dengan tingkat kematian dilaporkan antara 17% dan 32% pasien.
Abses otak paling sering berasal dari sisi infeksi bersebelahan yang ada seperti otitis media kronis, mastoiditis, sinusitis, atau karies gigi tetapi juga dapat terjadi langsung setelah penetrasi cedera kepala, prosedur bedah saraf atau secara hematogen seperti pada anak-anak dengan penyakit sianotik jantung bawaan. Dalam 25% kasus tidak ada sumber primer yang jelas dari timbulnya infeksi.
Awal diagnosis, terapi antibiotik yang tepat berdasarkan pengetahuan tentang penyebab mikroba dan operasi merupakan faktor prognostik utama untuk abses otak. Kultur negatif telah dilaporkan dari 9% menjadi 63% dalam dokumentasi kasus abses otak dan alasan dalam kasusu tersebut belum begitu jelas. Meskipun abses otak terus menjadi masalah utama di negara berkembang, diterbitkan sedikit data tentang jumlah kasus yang terbatas yang tersedia dari negara berkembang termasuk India.
Klien dengan brain abscess membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius, oleh karena itu pentingnya merumuskan asuhan keperawatan berdasarkan NANDA, NIC, dan NOC adalah untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan meningkatkan kualitas hidup klien. Dengan berkolaborasi bersama dengan profesi tenaga kesehatan yang lain, diharapkan tujuan dari pemberian pelayanan kesehatan pada klien dengan brain abscess akan tercapai.


B.     Rumusan Penulisan
1.      Apakah abses otak itu?
2.      Bagaimana suhan keperawatan pada klien dengan abses otak berdasarkan NANDA, NIC dan NOC melalui pengkajian Gordon?

C.    Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah:
1.      untuk mengetahui abses otak,
2.      untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan abses otak berdasarkan NANDA, NIC dan NOC melalui pengkajian Gordon

D.    Manfaat
1.      Mahasiswa mampu mengetahui abses otak
2.      Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada klien dengan abses otak berdasarkan NANDA, NIC dan NOC melalui pengkajian Gordon















BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Definisi
Abses otak adalah kumpulan nanah yang terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan otak yang disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. Abses otak merupakan kumpulan dari unsur-unsur infeksius dalam jaringan otak. Abses ini dapat terjadi melalui :
1.      Invasi otak langsung dari trauma intracranial atau pembedahan.
2.      Penyebaran infeksi dari daerah lain seperti sinus, telinga, dan gigi (infeksi sinus paranasal, otitis media, sepsis gigi).
3.      Penyebaran infeksi dari organ lain (abses paru-paru, endokarditis infektif).
Abses otak banyak terjadi pada penderita yang mengalami gangguan kekebalan tubuh (seperti penderita HIV positif atau orang yang menerima transplantasi organ).
B.     Patofisiologi
1.      Penyebab
Berbagai mikroorganisme dapat ditemukan pada abses otak, yaitu bakteri, jamur dan parasit. Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan Baeteroides. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. Penyakit jantung bawaan sianotik dengan pirau dari kanan ke kiri. (misalnya pada Tetralogy of  Fallot), terutama pada anak berusia lebih dari 2 tahun, merupakan faktor predisposisi terjadinya abses otak. Jamur penyebab abses otak antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium trichoides, spesies Candida dan Aspergillus. Walaupun jarang Entamuba histolitica, suatu parasit amoeba usus dapat menimbulkan abses otak secara hematogen.

2.      Manifestasi klinis
a.       Umumnya diakibatkan oleh edema, pergeseran otak, infeksi, atau lokasi abses.
b.      Sakit kepala, biasanya pada pagi hari, merupakan gejala berkelanjutan yang paling sering.
c.       Muntah, tanda-tanda neurologis fokal (kelemahan ekstremitas, penurunan, penglihatan, kejang ) mungkin tergantung pada tempat abses.
d.      Perubahan dalam status mental, misalnya letargi, kekacauan mental, peka rangsang, atau perilaku disorientasi.
e.       Demam mungkin ada atau mungkin pula tidak ada.
Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal, hiperemia infiltrasi leukosit atau melunaknya parenkim. Trombisis sepsis dan edema. Beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. Kemudian terjadi ruptur, bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis.
Abses otak dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh, atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu.
Abses otak bersifat soliter atau multipel. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik, adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat thrombosis, tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. Biasanya terjadi pada umur lebih dari 2 tahun. Dua pertiga abses otak adalah soliter, hanya sepertiga abses otak adalah multipel. Pada tahap awal abses otak terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem, perlunakan dan kongesti jaringan otak, kadang-kadang disertai bintik perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Astroglia, fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter.
Gambar 1. Abses Otak












Gambar 2. Patofisiologi dan masalah keperawatan abses otak

2. Gangguan bersihan jalan napas.

Faktor -faktor predisposisi : invasi bakteri ke otak langsung, penyebaran infeksi dari daerah lain, penyebaran infeksi dari organ lain.

Infeksi atau septicemia jaringan otak.

Proses supurasi dari meningen.

Pembentukan transudat dan eksudat.

Peningkatan tekanan Intrakranial.

Penekanan area fokal

Edema serebral

Penekanan area pengatur kesadaran.

Kejang dan nyeri kepala.

1.       Gangguan perfusi jaringan serebral.

Perubahan tingkat kesadaran letargik, perubahan perilaku, disorientasi, dan fotofobia.

3. nyeri
4. risiko tinggi cidera

Penurunan kesadaran.

Koma.

Kematian .

7. koping keluarga tidak efektif.
8. kecemasan keluarga.

Perubahan pemenuhan nutrisi.

Intake nutrisi tidak adekuat.

9. pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.

5. gangguan mobilitas fisik.

6. Gangguan persepsi sensorik.

Penumpukan secret, kemampuan batuk menurun.
 

































C.    Pemeriksaan dan Diagnosis
1.      Anamnesis
Sakit kepala merupakan keluhan dini yang paling sering dijumpai (70–90%). Terkadang juga didapatkan mual, muntah dan kaku kuduk (25%).
a.       Pemeriksaan fisik
Panas tidak terlalu tinggi. Defisit neurologis fokal menunjukkan adanya edema di sekitar abses. Kejang biasanya bersifat fokal. Gangguan kesadaran mulai dari perubahan kepribadian, apatis sampai koma. Apabila dijumpai papil edema menunjukkan bahwa proses sudah berjalan lanjut. Dapat dijumpai hemiparese dan disfagia.
b.      Pemeriksaan laboratorium
·         Darah: jarang dapat memastikan diagnosis. Biasanya leukosit sedikit meningkat dan laju endap darah meningkat pada 60% kasus.
·         Cairan Serebro Spinal (CSS): dilakukan bila tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial (TIK) oleh karena dikhawatirkan terjadi herniasi.
c.       Pemeriksaan radiologi
·         CT Scan
CT scan kepala dengan kontras dapat dipakai untuk memastikan diagnosis. Pada stadium awal (1 dan 2) hanya didapatkan daerah hipodens dan daerah irreguler yang tidak menyerap kontras. Pada stadium lanjut (3 dan 4) didapatkan daerah hipodens dikelilingi cincin yang menyerap kontras.
2.      Diagnosa
Gejala awal abses otak tidak jelas karena tidak spesifik. Pada beberapa kasus, penderita yang berobat dalam keadaan distress, terus menerus sakit kepala dan semakin parah, kejang atau defisit neurologik (misalnya otot pada salah satu sisi bagian tubuh melemah). Dokter harus mengumpulkan riwayat medis dan perjalanan penyakit penderita serta keluhan-keluhan yang diderita oleh pasien. Harus diketahui kapan keluhan pertama kali timbul, perjalanan penyakit dan apakah baru-baru ini pernah mengalami infeksi. Untuk mendiagnosis abses otak dilakukan pemeriksaan CT scan (computed tomography) atau MRI scan (magnetic resonance imaging) yang secara mendetil memperlihatkan gambaran potongan tiap inci jaringan otak. Abses terlihat sebagai bercak/ noktah pada jaringan otak. Kultur darah dan cairan tubuh lainnya akan menemukan sumber infeksi tersebut. Jika diagnosis masih belum dapat ditegakkan, maka sampel dari bercak/ noktah tersebut diambil dengan jarum halus yang dilakukan oleh ahli bedah saraf.
D.    Penatalaksanaan Medis
Pada umumnya terapi abses otak meliputi pemberian antibiotik dan tindakan operatif berupa eksisi (aspirasi), drainase dan ekstirpasi. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan pemberian antibiotik, sebagai berikut:
1.         Bila gejala klinik belum berlangsung lama (kurang dan 1 minggu) atau kapsul belum terbentuk.
2.         Sifat-sifat abses:
a.       Abses yang lokasinya jauh dalam jaringan otak merupakan kontraindikasi operasi.
b.      Besar abses.
c.       Soliter atau multipel; pada abses multipel tidak dilakukan operasi
Pemilihan antibiotik didasarkan hasil pemeriksaan bakteriologik dan sensitivitas. Sebelum ada hasil pemeriksaan bakteriologik dapat diberikan antibiotik secana polifragmasi ampisilin/penisilin dan kioramfenikol. Bila penyebabnya kuman anaerob dapat diberikan metronidasol. Golongan sefalosporin generasi ke tiga dapat pula digunakan. Tindakan pembedahan dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas.
Ada 2 pendekatan yang dilakukan dalam terapi abses otak, yaitu :
a.       Antibiotika untuk mengobati infeksi
Jika diketahui infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri yang spesifik, maka diberikan antibiotika yang sensitif terhadap bakteri tersebut, paling tidak antibiotika berspektrum luas untuk membunuh lebih banyak kuman penyakit. Paling sedikit antibiotika yang diberikan selama 6 hingga 8 minggu untuk menyakinkan bahwa infeksi telah terkontrol.
b.      Aspirasi atau pembedahan untuk mengangkat jaringan abses
Jaringan abses diangkat atau cairan nanah dialirkan keluar tergantung pada ukuran dan lokasi abses tersebut. Jika lokasi abses mudah dicapai dan kerusakkan saraf yang ditimbulkan tidak terlalu membahayakan maka abses diangkat dengan tindakan pembedahan. Pada kasus lainnya, abses dialirkan keluar baik dengan insisi (irisan) langsung atau dengan pembedahan yaitu memasukkan jarum ke lokasi abses dan cairan nanah diaspirasi (disedot) keluar. Jarum ditempatkan pada daerah abses oleh ahli bedah saraf dengan bantuan neurografi stereotaktik, yaitu suatu tehnik pencitraan radiologi untuk melihat jarum yang disuntikkan ke dalam jaringan abses melalui suatu monitor. Keberhasilan pengobatan dilakukan dengan menggunakan MRI scan atau CT scan untuk menilai keadaan otak dan abses tersebut. Antikonvulsan diberikan untuk mengatasi kejang dan penggunaanya dapat diteruskan hingga abses telah berhasil diobati.
Dianjurkan menghubungi dokter bila mengalami sakit kepala yang kontinu dan keadaannnya makin memburuk dalam beberapa hari atau minggu. Jika sakit kepala disertai mual, muntah, kejang, gangguan kepribadian atau kelemahan otot, disarankan untuk segera mencari pertolongan.
Sasaran penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan abses. Abses otak diobati dengan terapi antimikroba dan irisan pembedahan atau aspirasi.
1.      Pengobatan antimikroba diberikan untuk menghilangkan organisme penyebab atau menurunkan perkembangan virus.
2.      Dosis besar melalui intravena biasanya ditentukan praoperatif untuk menembus jaringan otak dan abses otak. Terapi diteruskan pada pascaoperasi.
3.      Kortikosteroid dapat diberikan untuk menolong menurunkan peradangan edema serebri jika klien memperlihatkan adanya peningkatan defisit neurologis.
4.      Obat-obat antikonvulsan (fenitoin, fenobarbital) dapat diberikan sebagai profilaksis mencegah terjadinya kejang. Abses yang luas dapat diobati dengan terapi antimikroba yang tepat, dengan pemantauan ketat melalui pengamatan dengan CT scan.
Setelah pengobatan abses otak, defisit neurologis dapat terjadi berupa hemiparesis, kejang, gangguan penglihatan, dan kelumpuhan saraf kranial karena kemungkinan adanya gangguan jaringan otak. Serangan ulang biasanya terjadi, dengan angka kematian yang tinggi.


BAB III
PEMBAHASAN

A.    Kasus
Tn.I, 34 tahun mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat. Sakit kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan. Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang. Apabila sakit kepalanya timbul, Os terkadang sampai menelungkupkan kepalanya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sakit kepalanya timbul terusmenerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat menjelang malam hari sehingga membuat Os tidak dapat beristirahat. Untuk mengurangi sakit kepalanya, Os lebih senang berbaring pada sisi sebelah kiri. Mual (+), muntah (+), riwayat trauma pada kepala (+), sering gelisah dan susah tidur pada malam hari. Terkadang Os tidak ingat pada siapapun.
Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan adanya kelainan. Tidak ada parese N. Kranialis. Pemeriksaan motorik dan sensorik pada ekstremitas baik. Refleks fisiologis (+). Tidak terdapat refleks patologis. Gangguan saraf otonom (-). Hanya ditemukan kaku kuduk (+) pada pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan angka leukosit. Pada pemeriksaan radiologi dengan CT Scan kepala didapatkan midline shift ke kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak gambaran “enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.

B.     Pengkajian Gordon
1.    Identitas
a.     Identitas Pasien
Nama                      : Tn. I
Umur                      : 34 tahun
Agama                    : Kristen
Jenis Kelamin         : Laki – laki
Status                      : Menikah
Pendidikan             : D3
Pekerjaan                : Swasta
Suku Bangsa           : Jawa
Alamat                    : Yogyakarta
Tanggal Masuk       : 26 November 2012
Tanggal Pengkajian: 27 November 2012
No. Register           : -
Diagnosa Medis      : Abses cerebri
2.    Status Kesehatan
a.    Status Kesehatan Saat Ini
1)   Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini) :
Sakit kepala
2) Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini :
Sakit kepala dirasakan selama 2 minggu SMRS dan dirasakan semakin memberat. Sakit kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan. Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang. Apabila sakit kepalanya timbul, Os terkadang sampai menelungkupkan kepalanya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sakit kepalanya timbul terus-menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat pada pagi hari dan menjelang malam hari sehingga membuat Os tidak dapat beristirahat.
Awalnya sakit kepala dirasakan 2 minggu yang lalu ketika Os sedang bekerja, yang membuat Os beristirahat sejenak, kemudian tanpa timbul mual Os muntah beberapa kali. Muntahnya timbul pada saat Os sedang berbaring dan terkesan muncrat. Karena tidak ada perbaikan selama beberapa hari berada di rumah, dan muntah terus-menerus, serta tidak ada perbaikan pada sakit kepalanya walaupun telah diberikan obat sakit kepala, akhirnya Os dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Os masih sering muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual. Akhir-akhir ini Os merasa gelisah dan susah sekali buat tidur, khususnya menjelang malam. Lebih banyak diam, dan tampak acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap panggilan serta terkadang berbicara ngelantur (sering tidak nyambung ). Bahkan menurut pengakuan istrinya, Os terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudaranya sendiri bahkan kepada istrinya sendiri. Os seringkali merintih kesakitan.
Ketika berumur sekitar 25 tahun, Os pernah mengalami trauma pada kepalanya karena tertimpa kayu belian ketika sedang membuat rumah. Pada saat itu, Os pingsan selama kurang lebih 2 jam dan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari. Saat ini Os mengalami demam dan tidak pernah mengalami kejang-kejang.
3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya :
Untuk mengurangi sakit kepalanya, Os lebih senang berbaring pada sisi sebelah kiri.
b.   Status Kesehatan Masa Lalu
1)   Penyakit yang pernah dialami :
Riwayat hipertensi disangkal , riwayat diabetes disangkal, riwayat sakit pada telinga, gigi disangkal, riwayat sakit pada kulit disangkal. Riwayat kejang disangkal.
2)   Pernah dirawat :
Ketika berumur sekitar 25 tahun, Os pernah mengalami trauma pada kepalanya karena tertimpa kayu belian ketika sedang membuat rumah. Pada saat itu, Os pingsan selama kurang lebih 2 jam dan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari. Saat ini Os mengalami demam dan tidak pernah mengalami kejang-kejang.
3) Alergi :
Os melaporkan tidak memiliki alergi.
4)   Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll) :
- Merokok sejak remaja, menghabiskan 2 bungkus rokok/hari
- Minum kopi 3 gelas/hari
c.    Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada pada keluarga yang mengalami keluhan yang serupa.
d.   Diagnosa Medis dan therapy
Abses serebri
3.    Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a.    Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
·         Sebelum sakit : Os mengatakan sakitnya karena trauma kepala akibat tertimpa kayu.
·         Saat sakit : Os di bawa ke rumah sakit karena sakit kepalanya yang timbul terus-menerus
b.   Pola Nutrisi-Metabolik
·      Sebelum sakit :
Frekuensi makan : 3 x sehari
·      Saat sakit : Baik
c.    Pola Eliminasi
1)   BAB
Sebelum sakit:
Frekuensi : 1 x sehari
Warna : kuning kecoklatan
Konsistensi : lembek
Saat sakit : Normal
2)   BAK
Sebelum sakit: Normal
Saat sakit : Normal
d.   Pola aktivitas dan latihan
1)   Aktivitas
Saat sakit : aktivitas Os tergantung total karena terjadi penurunan kesadaran.
2)   Latihan
·      Sebelum sakit            : Bekerja setiap hari dan olahraga seminggu sekali.
·      Saat sakit       : Tidak mampu bekerja dan berolahraga.
e.    Pola kognitif dan Persepsi
Os masih dalam keadaan apatis sehingga belum dapat dikaji secara keseluruhan.
f.     Pola Persepsi-Konsep Diri
Os masih dalam keadaan apatis sehingga belum dapat dikaji secara keseluruhan.
g.    Pola Tidur dan Istirahat
Sebelum sakit : Baik
Saat sakit : Pasien mengeluhkan sulit beristirahat karena nyeri yang dialami
h.   Pola Peran-Hubungan
·         Sebelum sakit :
Os dapat berkomunikasi dengan baik, dengan keluarga maupun tetangganya
·         Saat sakit         :
Os menggalami masalah dalam berkomunikasi.
i.      Pola Seksual-Reproduksi
Sebelum sakit : tidak mengalami masalah seksual
Saat sakit    : mengalami perubahan dalam pemenuhan kebutuhan seks
j.     Pola Toleransi Stress-Koping
·         Sebelum sakit :
Os menceritakan setiap masalahnya pada keluarganya.
·         Saat sakit         :
Keluarga mengatakan os selalu menceritakan keluhanya yang dialaminya.
k.   Pola Nilai-Kepercayaan
·         Sebelum sakit : Os menganut agama Kristen, dan melaksanakan persembahyangan di gereja setiap minggu
·         Saat sakit : Os tidak bisa melakukan persembahyangan dan hanya bisa berdoa di tempat tidur
4.      Pemeriksaan Fisik
a.    Status Generalis
-       Keadaan umum  : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah
-       Kesadaran          : Apatis
-       Status gizi          : Cukup
b.      Tanda-tanda Vital
-       Tekanan darah   : 130/70 mmHg
-       Nadi                   : 102x/ menit, teratur, isi cukup
-       Nafas                 : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup
-       Suhu                   : 38,5oC
c.    Keadaan Fisik
-       Kepala                : Bentuk tidak ada kelainan, simetris, dan nyeri tekan (+) pada daerah belakang kepala sebelah kanan
-       Leher                  : Sikap dinamis, gerakan memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan baik
-       Vertebra             : Tidak terdapat deformitas
-       Mata                   : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik
-       Telinga               : Sekret (-)
-       Hidung               : Sekret (-), deviasi septum (-)
-       Tenggorokan      : Faring tidak hiperemis
-       Jantung              : Bunyi jantung I/II normal, murmur (-), gallop (-)
-       Paru                    : Suara dasar vesikuler , rhonki (-/-), wheezing (-/-)
-       Abdomen           : Perut datar, lemas, tidak teraba hati maupun limpa
-       Bising usus         : 3x/menit
-       Ekstremitas        : Akral hangat, perfusi perifer baik
-       Kulit                   : Kering pada kedua tungkai
d.   Status neurologik
-       GCS 13 , E4M5V4
-       Orientasi, jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu
-       Kemampuan berbicara tidak terganggu
-       Cara berjalan tidak terdapat kelainan
-       Tidak ada gerakan abnormal
-       Pemeriksaan Rangsang Meningeal
·      Kaku kuduk ( + )
·      Lasegue ( - )
·      Kernig ( - )
·      Brudzinski I/Brudzinski’s neck sign ( - )
·      Brudzinski II/Brudzinski’s contralateral leg sign ( - )
-       Nervus kranialis
·      N.I              : daya pembau baik
·      N.II             : daya penglihatan baik
·      N.III           : ptosis (-), gerak kedua mata ke medial, atas, dan bawah                                baik, pupil bulat isokor, diameter 3 mm, Refleks pupil +/+,                  strabismus divergen (-), diplopia (-)
·      N.IV           : gerak kedua mata ke lateral bawah baik, strabismus                                      konvergen (-), diplopia (-)
·      N.V             : sensibilitas baik, motorik baik
·      N.VI           : gerak kedua mata ke lateral baik, strabismus konvergen (-),                          diplopia (-)
·      N.VII          : motorik baik, tidak tampak paresis, salivasi dan lakrimasi                             baik.
· N.VIII           : pendengaran suara baik pada telinga kanan dan kiri
· N.IX & X      : arkus faring simetris, bersuara baik, tidak sengau, menelan                                       baik
· N.XI              : bisa memalingkan kepala dan mengangkat bahu
· N.XII            : artikulasi baik, kekuatan lidah baik, deviasi (-), tremor (-)
-  Motorik
·      Kekuatan :  4 4 4 4 4 4 4 4
                        4 4 4 4 4 4 4 4
·      Tonus :   N N
                     N N
·      Trofi : atrofi  - -
                          - -
·      Sensorik eksteroseptif:
Ekstremitas atas : baik
Ekstremitas bawah: baik
-  Refleks fisiologis:
·      bisep (+/+)
·      trisep (+/+)
·      radius (+/+)
·      patella (+/+)
·      achilles (+/+)
-  Refleks patologis:
· Hoffman-Trommer (-/-)
· Babinsky (-/-)
· Oppenheim (-/-)
· Gordon (-/-)
· Gonda (-/-)
· Schaffer (-/-)
· Chaddock (-/-)

-  Otonom:
· retensio urin (-)
· inkotinensia alvi (-)
5.    Pemeriksaan Penunjang
a.      Laboratorium ( hasil pemeriksaan tanggal 28 November 2012)
Hb                         : 13,4 g/dL
Ht              : 41,6 %
Leukosit    : 12.000/dl
Trombosit  : 319.000 /JL
b.      Radiologi ( hasil pemeriksaan tanggal 2 Desember 2012)
Foto thorak            : Cor Pulmo tidak tampak kelainan
CT Scan Kepala    : Tampak midline shift ke kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak gambaran “ring enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.
c.       Laboratorium Lain (hasil pemeriksaan tanggal 4 Desember 2012)
Waktu perdarahan : 2’30’’
Waktu pembekuan : 7’30’’

Analisa Data
Data
Etiologi
Masalah Keperawatan
DO :
-   Keadaan umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
-   Kesadaran : Apatis.
-   GCS 13
-   Tekanan darah : 130/70 mmHg.
-   Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup.
-   Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup.
-   CT Scan Kepala       : Tampak midline shift ke kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak gambaran “ring enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.
-   Os muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual.
DS :
-   Os mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.





Cedera kepala







Penurunan kapasistas adaptif intrakranial

DO :
-   Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup.
-   Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup.
-   Suhu : 38,5oC.
-   Kulit : Kering pada kedua tungkai.
DS : -



Infeksi



Hipertermi
DO :
-   Tekanan darah : 130/70 mmHg.
-   Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup.
-   Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup.
-   Kaku kuduk (+).
-   Os sering merintih kesakitan.
DS :
-   Os mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
-   Sakit kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan.
-   Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang.
-   Sakit kepalanya timbul terus menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat menjelang malam hari sehingga membuatnya tidak bisa beristirahat.









Inflamasi









Nyeri
DO :
-   Keadaan umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
-   Kesadaran : Apatis.
-   GCS 13
-   Orientasi, jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu.
DS :
-    Os lebih banyak diam, dan tampak acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap panggilan serta terkadang berbicara ngelantur (sering tidak nyambung ).
-   Menurut pengakuan istrinya, Os terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudaranya sendiri bahkan kepada istrinya sendiri.






Penurunan kesadaran dan status mental






Resiko injuri




C.    Asuhan Keperawatan
Data
Diagnosa
NOC
NIC
DO :
-   Keadaan umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
-   Kesadaran : Apatis
-   GCS 13
-   Tekanan darah : 130/70 mmHg
-   Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
-   Nafas : 21x/ menit, teratur, ke-dalaman cukup
-   CT Scan Kepala: Tampak midline shift ke kiri, tampak gambaran hipodens-ditempo-rofrontalis dekstra dan temporo oksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak gambaran “ring enhance-ment” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm.
-   Os muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual.
DS :
-   Os mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
Penurunan kapasistas adaptif intracranial b.d cidera kepala
Domain 9 : Koping/Toleransi stress
Kelas 3 : Stress Neuro Behavior
Definisi :
Mekanisme dinamika cairan intracranial yang secara normal dapat berkompensasi terhadap peningkatan volume intracranial dapat beradaptasi, hasil peningkatan tekanan berulang yang tidak sesuai sebagai respon terhadap berbagai macam stimulus.
Batasan Karakteristik :
·         Keadaan umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah
·         Kesadaran : Apatis
·         Tekanan darah:
130/70 mmHg
·         Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
·         Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup
·         CT Scan Kepala : Tampak midline shift ke kiri, tampak gambaran hipodens di temporofrontalis dekstra dan temporooksipitalis sinistra yang pada pemberian larutan kontras tampak gambaran “ring enhancement” di frontalis dekstra dengan ukuran 3,5 x 2,8 cm
·         Os muntah-muntah, terkadang didahului oleh rasa mual
·         Os mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat
Perfusi Jaringan : Serebral
Definisi :
Aliran darah yang adekuat menuju pembuluh darah otak untuk menjaga fungsi otak.
·         Tekanan intrakranial menurun
·         Demam menurun
·         Muntah berkurang
·         Berkurangnya gangguan kognisi
·         Sakit kepala menurun
Peningkatan perfusi serebral
Definisi : Meningkatkan perfusi yang adekuat dan membatasi komplikasi pada pasien yang sedang mengalami atau beresiko untuk perfusi serebral yang tidak adekuat.
·         Mengkonsultasikan dengan terapis untuk menentukan posisi kepala yang optimal (0, 15, atau 300) dan memonitor respon pasien terhadap perubahan posisi
·         Menghindari fleksi pada leher atau fleksi pada pinggul/lutut yang ekstrem
·         Memonitor status neurologi
·         Menghitung dan memonitor tekanan perfusi serebral (CPP)
DO :
-   Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
-   Nafas : 21x/ menit, teratur, ke-dalaman cukup
-   Suhu : 38,5oC
-   Kulit : Kering pada kedua tungkai
DS : -
Hipertermi b.d infeksi
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 6 : Termoregulasi
Definisi : Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal.
Batasan karakteristik :
·         Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
·         Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup
·         Suhu : 38,5oC
·         Kulit : Kering pada kedua tungkai

Termoregulation
Definisi:
Keseimbangan antara produksi panas, peningkatan panas, dan kehilangan panas.
·         Suhu tubuh klien turun (normal 37oC +- 1oC)
·         Kulit klien melembab
·         Klien merasa nyaman dengan suhu tubuhnya
·         Sakit kepala klien berkurang
TTV
·         Suhu tubuh normal
·         Tekanan darah normal
·         RR normal
·         Nadi normal

Penanganan demam
Definisi : Manajemen pasien dengan hiperpireksia karena faktor non-lingkungan
·         Memonitor temperatur secara berkala
·         Memonitor kehilangan cairan yang tidak terlihat
·         Memonitor warna kulit dan temperatur
·         Memonitor tekanan darah, nadi dan pernafasan secara berkala
·         Memonitor tingkat penurunan kesadaran
·         Memonitor intake dan output
·         Memberikan obat antipiretik jika dibutuhkan
·         Memberikan cairan intravena
DO :
-   Tekanan darah : 130/70 mmHg
-   Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
-   Nafas : 21x/ menit, teratur, ke-dalaman cukup
-   Kaku kuduk (+)
-   Os sering merintih kesakitan
DS :
-   Os mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
-   Sakit kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan.
-   Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang.
-   Sakit kepalanya timbul terus menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat menjelang malam hari sehingga membuat-nya tidak bisa beristira-hat.
Nyeri akut b.d inflamasi pada otak
Domain 12 : Kenyamanan
Kelas 1 : Kenyamanan Fisik
Definisi : Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba – tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung > 6 bulan.
Batasan karakteristik :
·         Tekanan darah:
130/70 mmHg
·         Nadi : 102x/ menit, teratur, isi cukup
·         Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup
·         Kaku kuduk (+)
·         Os sering merintih kesakitan
·         Os mengeluh sakit kepala yang telah dirasakan selama 2 minggu ini dan dirasakan semakin memberat.
·         kepala terkadang dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala sedang diregangkan.
·         Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala bagian belakang.
·         Sakit kepalanya timbul terus menerus dan menetap serta lebih sering terasa semakin memberat menjelang malam hari sehingga membuatnya tidak bisa beristirahat.

Level nyeri
Definisi : Keparahan nyeri yang diamati atau dilaporkan.
·         Klien melaporkan nyeri berkurang
·         Klien menunjukkan ekspresi nyeri berkurang
·         Klien mengatakan mual berkurang
·         TTV normal
Manajemen nyeri:
Definisi : Mengurangi nyeri atau menurunkan nyeri ke level yang nyaman untuk diterima pasien
·         Menunjukkan pengkajian yang komprehensif dari nyeri untuk menunjukkan lokasi, karakter, onset/durasi frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor-faktor pencetusnya
·         Mengamati perilaku tidak nyaman non-verbal, terutama jika tidak mampu berkomunikasi secara efektif
·         Menggunaka n strategi komunikasi terapeutik untuk pengalaman ketidaknyamanan tentang nyeri dan penerimaan respon pasien tentang nyeri
·         Menentukan dampak dari pengalaman nyeri dalam kualitas hidup (tidur, selera makan, aktivitas, kognisi, suasana hati, hubungan, penampilan kerja, dan tanggungjawab peran)
·         Mengurangi atau mengeliminasi faktor pencetus atau yang meningkatkan nyeri (takut, kelelahan, perilaku yang monoton, kurang pengetahuan)
·         Memilih dan mengimplementasikan berbagai macam pengukuran (farmakologi, non-farmakologi, interpersonal) untuk memfasilitasi penghilangan nyeri
·         Mengajari prinsip manajemen nyeri
·         Mempertimbangkan tipe dan sumber nyeri ketika memilih strategi menghilangkan nyeri
·         Mendorong pasien untuk memonitor nyerinya dan ikut campur seperlunya
·         Mengajarkan untuk menggunakan teknik non-farmakologi
Administrasi analgesik
Definisi : Menggunakan agen farmakologi untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri
·         Mengevaluasi kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam pemilihan analgesik, jalur, dosis dan keterlibatan pasien jika dibutuhkan
·         Memilih analgesik yang sesuai atau kombinasi analgesik jika lebih daari satu yang diresepkan
·         Menentukan pemilihan analgesik berdasarkan tipe dan keparahan nyeri
·         Memonitio tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik
·         Memperhatikan kebutuhan kenyamanan dan aktivitas lain yang membantu relaksasi untuk memfasilitasi respon analgesik
·         Mendokumentasikan respon analgesik dan efek yang tidak diinginkan
DO :
-   Keadaan umum: Tampak sedang sakit, gelisah, lemah.
-   Kesadara: Apatis
-   GCS 13
-   Orientasi, jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu.
DS :
-   Os lebih banyak diam, dan tampak acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap panggilan serta terkadang berbicara ngelantur (sering tidak nyam-bung)
-   Menurut pengaku-an istrinya, Os terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudara-nya sendiri bahkan kepada istrinya sendiri.
Resiko injury b.d penurunan kesadaran dan status mental
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 2 : Cedera Fisik
Definisi :
Beresiko mengalami cedera sebagai akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaptif dan sumber defensif individu.
Faktor resiko :
·         Keadaan umum : Tampak sedang sakit, gelisah, lemah
·         Kesadaran : Apatis
·         Orientasi, jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama terganggu
·         Os lebih banyak diam, dan tampak acuh tak acuh, serta sering tidak merespon terhadap panggilan serta terkadang berbicara ngelantur (sering tidak nyambung)
Menurut pengakuan istrinya, Os terkadang tidak mengenali lagi saudara-saudaranya sendiri bahkan kepada istrinya sendiri

Status neurologi
Definisi : kemampuan saraf pusat dan teppi untuk menerima, memproses, dan merespon untuk stimulus internal dan eksternal.
-         Kesadaran membaik
-          Penurunan tekanan intrakranial
-          Kounikasi sesuai dengan situasi
-          Pola tidur-istirahat embaik
-          Tekanan darah normal
-          Tekanan nadi normal
-          Pola nafas efektif
-          Orientasi kognitif membaik
-          Tidak terjadi sakit kepala.
Monitor neurologi
Definisi : Mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi neurologi
·         Memonitor tingkat kesadaran
·         Memonitor tingkat orientasi
·         Memonitor ingatan saat ini, lama perhatian, ingatan masa lalu, suasana hati dan perilaku
·         Mencatat keluhan sakit kepala
·         Menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial
Pencegahan Jatuh
Definisi : Melakukan pencegahan khusus pada pasien yang beresiko cedera dari terjatuh.
Aktivitas :
·      Mengidentifikasi kelemahan kognitif atau fisik dari pasien yang mungkin dapat meningkatkan potensi terjatuh
·      Mengidentifikasi lingkungan dan faktor yang mengakibatkan resiko terjatuh
·      Mengulas sejarah terjatuh pada pasien dan keluarga
·      Mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang mungkin meningkatkan potensi terjatuh (misalnya lantai licin)
·      Mengamati jalan, keseimbangan, dan kelelahan dengan ambulasi
·      Mengajarkan klien bagaimana terjatuh untuk mengurangi cedera
·      Menyediakan tempat tidur dengan roda untuk memudahkan perpindahan
·      Menggunakan pengaman tempat tidur yang panjang dan tinggi untuk mencegah jatuh dari tempat tidur, bila perlu
·      Menggunakan alarm tempat tidur untuk memperingatkan perawat jika individu akan terjatuh, jika dibutuhkan



























BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
a.       Abses otak adalah kumpulan nanah yang terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan otak yang disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur.
b.      Mikroorganisme yang menyebabkan abses otak, yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan Baeteroides.
c.       Manifestasi klinis yang sering muncul pada abses otak adalah sakit kepala, muntah, kelemahan ekstremitas, penurunan, penglihatan, kejang, perubahan dalam status mental, demam.
d.      Berdasarkan kasus, diagnosis yang dapat ditegakkan pada pasien abses otak adalah penurunan kapasistas adaptif intracranial b.d cidera kepala, hipertermi b.d infeksi,  nyeri akut b.d inflamasi pada otak, resiko injury b.d penurunan kesadaran dan status mental.
B.     Saran
a.       Perawat mampu berkolaborasi dengan tenaga medis yang lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pada klien dengan brain abscess.
b.      Perawat mampu menyusun dan menerapkan Asuhan Keperawatan berdasarkan NANDA, NIC dan NOC melalui Pengkajian Gordon di pelayanan kesehatan agar tujuan dari pemberian pelayanan kesehatan tercapai.
c.       Perawat harus selalu meng-update informasi dan ilmu pengetahuan untuk menunjang pemberian pelayanan asuhan keperawatan pada klien dengan brain abscess melalui Evidence Based Nursing.





0 komentar:

Posting Komentar